Sebuah game hampir tidak pernah selesai persis seperti ketika pertama kali direncanakan.
Di awal development, developer mungkin sudah memiliki gambaran tentang karakter, dunia permainan, mekanisme gameplay, hingga cerita yang ingin disampaikan. Semuanya terlihat seperti sebuah rencana yang jelas.
Namun setelah proses produksi dimulai, kenyataan sering kali berkata lain.
Fitur yang awalnya dianggap menarik ternyata tidak menyenangkan ketika dimainkan. Cerita mengalami perubahan. Desain level harus dibuat ulang. Karakter yang sudah dikerjakan berbulan-bulan mungkin akhirnya dihapus.
Bahkan tidak jarang sebuah game yang dirilis ke pemain memiliki bentuk yang sangat berbeda dari konsep awalnya.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi selama proses development?
Konsep di Awal Tidak Selalu Bertahan
Ketika sebuah game baru dirancang, developer biasanya membuat konsep atau prototype untuk menjawab satu pertanyaan penting:
Apakah ide ini benar-benar menyenangkan ketika dimainkan?
Ide yang terdengar bagus di atas kertas belum tentu terasa bagus ketika sudah menjadi game.
Misalnya, developer memiliki ide tentang sebuah sistem pertarungan yang terlihat unik. Setelah dibuat prototype-nya, ternyata pemain merasa kontrolnya terlalu rumit.
Daripada mempertahankan ide tersebut hanya karena sudah direncanakan sejak awal, developer bisa memilih untuk mengubahnya.
Di sinilah proses development mulai menjadi perjalanan yang penuh percobaan.
Prototype Bisa Mengubah Segalanya
Prototype merupakan salah satu cara developer menguji sebuah ide sebelum menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membuat versi final.
Prototype tidak harus terlihat bagus.
Grafiknya bisa sederhana. Karakternya bisa menggunakan bentuk sementara. Bahkan levelnya mungkin hanya berupa kotak dan garis.
Yang penting adalah bagaimana sistem tersebut terasa ketika dimainkan.
Jika prototype menunjukkan bahwa ide tersebut tidak bekerja, developer masih memiliki kesempatan untuk mengubahnya sebelum biaya dan waktu yang dikeluarkan menjadi jauh lebih besar.
Namun jika ternyata konsepnya menarik, barulah sistem tersebut dikembangkan lebih jauh.
Dengan kata lain, prototype bukan sekadar versi awal game.
Ia juga menjadi alat untuk mengetahui apakah sebuah rencana memang layak diteruskan.
Ada Fitur yang Terlihat Bagus, tetapi Ternyata Tidak Berguna
Salah satu hal yang cukup sering terjadi dalam development adalah munculnya fitur yang sebenarnya menarik, tetapi tidak memberikan manfaat berarti bagi pengalaman pemain.
Sebuah game mungkin memiliki ide untuk membuat sistem crafting yang sangat detail.
Awalnya terdengar menarik.
Pemain dapat mengumpulkan berbagai material, membuat item, meningkatkan peralatan, dan melakukan berbagai kombinasi.
Tetapi setelah dimainkan, ternyata sebagian besar pemain hanya menggunakan beberapa item utama.
Sistem crafting yang seharusnya memperkaya pengalaman justru membuat permainan terasa lebih rumit.
Pada akhirnya, developer mungkin menyederhanakannya.
Bukan karena fiturnya buruk, tetapi karena fitur tersebut tidak cocok dengan game yang sedang dibuat.
Perubahan Cerita Juga Bisa Terjadi
Perubahan bukan hanya terjadi pada gameplay.
Cerita sebuah game juga dapat mengalami perubahan besar selama development.
Ketika karakter mulai dibuat dan dunia permainan mulai terbentuk, developer bisa menemukan bahwa cerita awal tidak lagi cocok dengan arah game.
Karakter yang awalnya dirancang sebagai tokoh pendukung mungkin ternyata memiliki potensi menjadi karakter utama.
Sementara itu, bagian cerita yang awalnya dianggap penting bisa saja terasa tidak relevan setelah gameplay berkembang.
Karena itu, cerita dalam game sering kali ikut berkembang bersama gameplay.
Keduanya tidak selalu dibuat secara terpisah.
Level yang Sudah Jadi Bisa Dibongkar Lagi
Mungkin sulit dibayangkan, tetapi sebuah level yang sudah selesai belum tentu aman dari perubahan.
Developer bisa saja menemukan bahwa pemain terlalu mudah tersesat.
Atau sebaliknya, level tersebut terlalu mudah sehingga tidak memberikan tantangan.
Ada juga kemungkinan bahwa pemain tidak memperhatikan bagian penting dari lingkungan karena desain visualnya kurang jelas.
Akhirnya, level tersebut harus diubah.
Kadang hanya beberapa bagian yang diperbaiki.
Namun dalam kasus tertentu, desainnya bisa dibongkar hampir seluruhnya.
Dari sudut pandang pemain, perubahan tersebut mungkin tidak pernah terlihat.
Tetapi bagi tim development, itu berarti pekerjaan yang sudah dilakukan sebelumnya harus dievaluasi kembali.
“Sudah Dibuat” Tidak Sama dengan “Sudah Selesai”
Ini adalah salah satu hal yang paling sulit dipahami ketika melihat proses pembuatan game dari luar.
Sebuah fitur mungkin sudah dibuat.
Karakter sudah bisa bergerak.
Level sudah bisa dimainkan.
Musik sudah masuk.
Namun game tersebut belum tentu siap dirilis.
Setiap bagian harus diuji bersama bagian lainnya.
Sistem yang bekerja secara terpisah belum tentu bekerja dengan baik ketika semuanya digabungkan.
Misalnya, perubahan pada sistem karakter dapat memengaruhi level.
Perubahan level dapat memengaruhi keseimbangan gameplay.
Perubahan gameplay dapat memengaruhi tutorial.
Dan perubahan tutorial dapat memengaruhi bagaimana pemain memahami permainan.
Karena semuanya saling berhubungan, satu perubahan kecil bisa menghasilkan pekerjaan tambahan di tempat lain.
Inilah Mengapa Development Bisa Terasa Seperti Lingkaran
Dalam proses yang ideal, kita mungkin membayangkan development berjalan seperti ini:
Rencana → Produksi → Testing → Selesai.
Pada kenyataannya, prosesnya sering lebih mirip:
Rencana → Produksi → Testing → Masalah → Perubahan → Testing lagi → Perubahan lagi → Produksi lagi.
Developer tidak hanya bergerak maju.
Mereka juga sering kembali ke bagian sebelumnya.
Hal tersebut bukan selalu tanda bahwa development berjalan buruk.
Justru dalam banyak kasus, perubahan merupakan bagian normal dari proses menemukan bentuk terbaik sebuah game.
Masalah Terbesar Kadang Baru Muncul Ketika Game Sudah Dimainkan
Developer memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang game yang mereka buat.
Namun mereka tetap tidak bisa sepenuhnya memprediksi bagaimana pemain akan merespons.
Karena itu, playtesting menjadi sangat penting.
Pemain yang mencoba game untuk pertama kalinya bisa menemukan masalah yang tidak pernah terpikirkan oleh developer.
Mereka mungkin tidak memahami tujuan sebuah misi.
Mereka mungkin menganggap sebuah mekanisme membosankan.
Mereka mungkin menemukan cara bermain yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Semua itu memberikan informasi baru.
Dan informasi tersebut dapat membuat rencana development berubah lagi.
Waktu dan Anggaran Juga Bisa Mengubah Rencana
Tidak semua perubahan terjadi karena masalah desain.
Ada faktor yang lebih sederhana: waktu dan sumber daya.
Sebuah fitur mungkin bagus, tetapi membutuhkan waktu enam bulan untuk dibuat.
Jika fitur tersebut bukan bagian penting dari pengalaman utama game, developer mungkin harus mempertimbangkan kembali apakah fitur tersebut layak dipertahankan.
Inilah yang sering disebut sebagai prioritas dalam development.
Tim harus menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditunda atau dihilangkan.
Keputusan seperti ini tidak selalu mudah.
Terutama ketika fitur tersebut sudah dikerjakan cukup lama.
Ada Kalanya Developer Harus Berani Menghapus
Salah satu keputusan tersulit dalam membuat game adalah menghapus sesuatu yang sudah dibuat.
Bayangkan sebuah fitur sudah dikerjakan selama berbulan-bulan.
Tim sudah membuat aset, animasi, kode, suara, dan berbagai komponen pendukungnya.
Namun setelah diuji, ternyata fitur tersebut justru membuat game menjadi lebih buruk.
Secara emosional, tentu sulit untuk membuangnya.
Tetapi dalam development, mempertahankan sesuatu hanya karena sudah menghabiskan banyak waktu bisa menjadi jebakan.
Kadang-kadang, menghapus pekerjaan lama justru merupakan cara untuk menyelamatkan game.
Game yang Berubah Bukan Berarti Gagal
Pemain sering melihat perubahan dari konsep awal sebagai sesuatu yang negatif.
Padahal, perubahan tidak otomatis berarti game tersebut gagal dikembangkan.
Justru perubahan bisa menunjukkan bahwa developer bersedia mengakui ketika sesuatu tidak bekerja dengan baik.
Sebuah game yang akhirnya dirilis mungkin hanya mempertahankan sebagian dari ide awalnya.
Sisanya berkembang selama proses produksi.
Dan itu normal.
Game bukan sekadar produk yang dibuat berdasarkan cetak biru.
Game adalah pengalaman interaktif yang harus diuji secara langsung.
Kadang-kadang, bentuk terbaiknya baru ditemukan setelah developer benar-benar mulai membuatnya.
Dari Luar Terlihat Berantakan, dari Dalam Bisa Jadi Proses Belajar
Jika melihat development dari luar, perubahan yang terus-menerus mungkin terlihat seperti kekacauan.
Namun dari dalam, setiap perubahan biasanya membawa informasi baru.
Developer mengetahui apa yang tidak bekerja.
Mereka mengetahui apa yang terlalu rumit.
Mereka mengetahui bagian mana yang tidak menyenangkan.
Mereka juga menemukan hal-hal yang ternyata jauh lebih menarik daripada dugaan awal.
Dengan begitu, development bukan hanya proses membuat game.
Development adalah proses menemukan game itu sendiri.
Pada Akhirnya, Tidak Ada Rencana yang Benar-Benar Kebal terhadap Perubahan
Rencana tetap penting.
Tanpa rencana, tim akan kesulitan menentukan arah dan prioritas.
Namun rencana juga bukan sesuatu yang harus diikuti secara membabi buta.
Ketika kenyataan menunjukkan bahwa sebuah ide tidak bekerja, developer harus memiliki keberanian untuk mengubahnya.
Itulah sebabnya game yang akhirnya kita mainkan bisa sangat berbeda dari konsep awalnya.
Karakter bisa berubah.
Cerita bisa berubah.
Gameplay bisa berubah.
Level bisa berubah.
Bahkan fitur yang dianggap sebagai bagian penting dari game bisa menghilang sepenuhnya.
Dan mungkin justru di situlah salah satu hal paling menarik dari game development.
Game yang baik tidak selalu lahir karena semua orang mengikuti rencana dengan sempurna, tetapi karena sebuah tim mampu beradaptasi ketika rencana tersebut ternyata tidak bekerja.
Di balik setiap game yang selesai, hampir selalu ada versi-versi yang tidak pernah dilihat pemain.
Ada ide yang gagal, fitur yang dihapus, level yang dibongkar, dan keputusan yang harus dibuat ulang.
Semua itu mungkin tidak pernah muncul di layar.
Tetapi tanpa proses tersebut, game yang akhirnya kita mainkan mungkin tidak akan pernah menemukan bentuk terbaiknya.

Leave a Reply